Mawarpink Blog

Pertanian Perkebunan Pekarangan

Membaca Peluang Bisnis dari Resep Masakan

Membaca Peluang Bisnis dari Resep Masakan
Cara penyajian dan pengolahan aneka bahan bisa dibuat berbeda dari kompetitor.
Minggu, 27/6/2010 | 16:36 WIB

KOMPAS.com – Urusan lidah dan perut memang tidak bisa sembarangan. Karena itu, olah resep dan ketajaman insting membaca peluang sangat penting bagi pebisnis kuliner. Pasalnya, salah memasukkan satu bumbu saja, pelanggan bisa kabur.

Kekayaan wawasan beragam resep masakan bisa didapat dari banyak sumber. Buku, koran, majalah, internet, dan acara televisi bisa jadi rujukan para “tukang masak” ini. Tetapi, belajar langsung dari koki sebenarnya, lengkap dengan praktik, tentu menjadi nilai lebih tersendiri.

Hadi Kusumo memang bukan jago masak. Tapi, ia punya kantin di daerah mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan, Jalan Ciumbuleuit, Bandung. Usaha bernama Kantin Juwita itu punya kekhasan menyajikan ayam dan ikan dalam rupa presto, alias tulang lunak.

“Kelebihannya, kami bubuhkan juga kremesan di atas daging itu,” katanya saat ditemui di acara Cooking Class East Meet West yang dihelat harian Kompas di Hotel Padma, Kota Bandung, Sabtu (19/6) lalu.

Ia mengaku tidak tahu banyak tentang bumbu-bumbu yang diimbuhkan dalam dagangannya. Pasalnya, masakan setengah jadi dipasok kakaknya. Tugas Hadi adalah menyempurnakannya sehingga bisa mengisi relung perut penyantapnya.

Namun, pelajaran memasak dari Chef Anton Pradipta siang itu bisa menambah wawasannya tentang makanan. Ia menyebut menu iga bakar sego ireng yang diajarkan bisa ia terapkan. “Saya jadi tahu bumbunya. Iga bakal saya ganti dengan ayam atau ikan, sesuai dengan dagangan saya,” katanya.

“Harga makanan di kantin saya seporsi sekitar Rp 12.000. Itu sudah harus bersaing dengan warung tenda di seberang kantin yang harganya lebih murah. Kalau bumbu yang diajarkan tadi saya pakai juga, mau dijual berapa masakan saya?” ujarnya.

Persaingan ketat
Lain lagi dengan Heny Adiaksi. Pengusaha salon dan kafe ini berencana membuka restoran keluarga bercita rasa Indonesia di Jalan Diponegoro. Padahal, di sekitar lokasi itu sudah bertebaran berbagai tempat makan yang menyajikan masakan serupa. Tetapi, ia tak gentar.

“Restoran itu nantinya banyak menyajikan masakan Nusantara, tetapi juga ada makanan ala barat seperti steak atau spaghetti. Dari kelas memasak seperti ini, saya belajar tentang cara penyajian dan pengolahan aneka bahan. Saya yakin masakan di restoran saya nanti bisa bersaing dengan yang lain meskipun sangat mungkin ada menu sama,” kata Heny.

Selain mengandalkan bumbu, Heny yakin lokasi yang tak jauh dari Gedung Sate dan sentra factory outlet di Jalan LL RE Martadinata bakal mendongkrak omzet. Karena berdekatan dengan perkantoran pemerintah, Heny akan menyediakan ruang khusus untuk rapat-rapat pejabat.

Seperti yang dituturkan Heny, peluang berbisnis kuliner masih sangat terbuka. Tentu saja perlu kecerdikan dan keuletan untuk bisa bertahan. Belajar masak dari koki profesional hanya salah satu cara untuk memuaskan lidah dan perut konsumen.

(Herlambang Jaluardi)

7 Komentar »

Bisnis Tanaman Hias

Tanaman hias banyak diburu oleh para penghobi, entah dijual lagi, ataupun hanya untuk penghias taman. Dengan banyaknya ragam tanaman hias, semakin banyak juga penjual tanaman-tanaman hias dipinggir jalan yang menawarkan harga murah. Jika sudah tahu seluk beluk dalam berbisnis tanaman hias, yang dicari bukan murahnya, tetapi banyak faktor, seperti apakah tumbuh dari biji atau hanya stek, dan masih banyak faktor lagi.

Teman saya, belum lama ini ikut-ikutan berbisnis tamanam hias. Bisa dikatakan teman saya itu seorang pemula dalam bisnis ini. Tetapi karena saudaranya ada yang mempunyai bisnis tanaman hias, sehingga tidak begitu menyusahkan bagi seorang pemula. Dari banyak tanya sana sini, akhirnya ia memutuskan untuk mencoba bisnis tanaman hias jenis Anthurium.

Awalnya ia mencari dari pameran tanaman hias, lalu mencari lagi ke pekebun, dan didapatkanlah tanaman Anthurium jemanii (CMIIW) dengan harga 6juta. Mahal? ternyata ia bilang tidak. Lalu sehari kemudian, tanaman yang sudah ia dapat dibawa ke sebuah pameran. Tidak lama setelah itu seorang pembeli datang, Ia menawar dengan harga 20juta. Merasa ditawar segitu, teman saya tersebut jual mahal, Ia minta 30 juta. Tetapi pada akhirnya tanaman tersebut jatuh ke pembeli, dengan tawaran akhir Rp 26,5 juta. Dan terakhir mendengar, tanaman hias sejenis yang ia beli dengan harga Rp 1,5 juta sudah ditawar 30 juta. Tetapi tanaman ini ia titipkan ke salah satu saudaranya dijakarta. Dan tanaman tersebut belum dilepas, karena dipasang tarif 50 juta.

Jika teman saya senang dengan jenis Anthurium, ada juga yang suka dengan tanaman hias sekaligus pengusir nyamuk. Atau mungkin jenis Aglonema, Adenium, Uphorbia, dan masih banyak lagi. Untuk menjual tanaman hias, jika tidak memiliki kebun ataupun showroom, kita bisa melihat tanaman hias yang sedang menjadi tren dimasyarakat, sehingga bisa cepat terjualnya. Karena yang perlu dipertimbangkan adalah perawatan, jangan sampai tanamannya mati karena tidak ketauannya dalam merawat. Dalam bisnis tanaman hias ada kategori lokal dan impor, teliti sebelum membeli sangat penting, sehingga kita tidak tertipu dengan tanaman yang katanya impor ternyata hanya lokal. Karena kategori tersebut mempengaruhi harga.

Penerbit Buku dan majalah yang banyak mengupas tentang tanaman hias adalah Trubus.

2 Komentar »